Malam Ekspresi Seniman Sumbar Tolak Hotel: Berkesenian akan Dihabisi di Sumatera Barat


Catatan Dr. Hermawan, M.Hum

    Meski diguyur hujan Panggung Ekspresi Seniman Sumatera Barat yang ketujuh pekan lalu tetap terlaksana dengan semangat baik pengisi acara maupun penonton dari kalangan pecinta dan pemerhati seni.
    Di kampung saya (Saniang Bakar, Solok) ada tempat berkesenian di depan surau. Biasa dipergunakan untuk latihan bila selesai salat isya. Sekarang sudah ada laga-laga, ada tempat duduk dan itu dibangun oleh swadaya masyarakat. Tak ada yang korupsi seperti bangunan gedung kebudayaan Sumbar yang di Taman Budaya ini. Kesenian di Minangkabau atau Sumatera Barat ini merupakan permainan anak nagari, pamenan para penghulu, parik paga dalam kampuang. Ada kabar sekolah seni akan dialihfungsikan menjadi sekolah umum. Berarti untuk budaya dan kesenian akan dihabiskan di Sumatera Barat. Sepertinya pemerintah Sumbar memakai kata alih fungsi sudah enak diucapkan. Demikian ungkapan yang disampaikan Ery Mefri, seorang presedium Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat.
    Kami ingin mendengar masukan dari budayawan dan seniman melalui panggung ekspresi yang ketujuh kali ini. Memang kita sudah mengetahui bahwa ada keluhan budayawan dan seniman yang sudah kami fasilitasi menghadap gubernur dan disampaikan secara langsung. Dalam hal ini perlu kami sampaikan bahwa hasil pertemuan itu masih dalam proses. Perlu disampaikan bahwa zona C bukan alih fungsi tapi penambahan fungsi. Hal itu kesalahan kalimat dari teman-teman kami. Bangunan C adalah untuk kantor dan pelataran parkir sehingga perlu penambahan fungsi. Tidak ada alih fungsi tapi penambahan fungsi. Bangunan C ditambah fungsinya. Untuk ekspresi memang akan dikerjasamakan seperti kegiatan malam ini. Namun untuk bangunan akan selalu diperhatikan pemerintah. Buktinya di Indonesia hanya ada 7 atau 8 propinsi yang punya Dinas Kebudayaan. Tapi soal bangunan gedung kebudayaan Sumatera Barat ada proses dan dinamikanya. Kami mendukung sepenuhnya proses bangunan gedung kebudayaan, baik zona B maupun zona C. Demikian ungkapan yang disampaikan kepala Dinas Kebudayaan, Syaifullah.
    Sementara itu dalam Orasi Budaya yang disampaikan Dr. Ardoni, M.Si. dengan judul In Memoriam Taman Budaya Sumatera Barat mengungkapkan: bahwa Taman Budaya yang selalu hiruk pikuk dengan berbagai kegiatan seni tak ada lagi kedengaran. Sekarang semua sepi tak ada lagi bunyi-bunyian kecuali suara jangkrik. Siang juga sepi kecuali suara orang maota di Lapau atau sesekali orang main band. Taman budaya menjadi tempat yang aneh. Di Taman Budaya ini tidak ada lagi taman, tidak ada lagi budaya. Begitu melintasi gerbang terlihat tiang-tiang agak besar dan banyak. Di belakang tiang-tiang itu ada bengkalai gedung yang cocok sebagai lokasi syuting film horor.
    Acara dimeriahkan oleh grup tari Galang Dance pimpinan Deslenda dengan judul tari Indang Bagalembong, dan sanggar tari Galatiak Pitameh, dengan tari Piring dan tari Takungkuang. Juga baca puisi oleh Dadang Leona dengan judul puisi Lapar karya Abrar Yusra, Yenny Ibrahim dengan puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri, dan Andri Chatri Tamsin dengan judul puisi Srenseng karya Yoserizal Manua. Dendang oleh Hasan Nawi dengan judul Ratok Rang Pantai. Ikut juga memeriahkan acara oleh grup KPJ (kelompok pemusik jalanan), dan dua orang penyanyi KDI yaitu Yogi Astra dan Caca. Tak lupa juga dua pelukis Sumatera Barat Herman Tojes dan Jon Wahid melukis saat acara berlangsung. Hadir malam itu Kepala Dinas Kebudayaan, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Taman Budaya seta seniman dan Budayawan Sumatera Barat.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال