Gaya Khas Lukisan Kaligrafi Syaiful Adnan Tak Dipunyai Kaligrafer Lain

Syaiful Adnan, Maestro Pelukis Kaligrafi Indonesia. (Foto Muharyadi)


Oleh MUHARYADI

Pakar Kaligrafi Islam dan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Dr. K.H. Didin Sirajuddin AR, M.Agdalam kegiatan pameran restropektif pelukis pelukis maestro Syaiful Adnan akhir Desember tahun 2023 lalu di Jakarta pernah berujar, bahwa Syaifulmemiliki sikap istiqomah pada bentuk huruf-hurufnya yang tiada duanya dan tiada pesaingnya. Karena keunikan karakter ini,maka dinamakan khat Syaifuli atau gaya khas Syaiful Adnan.

 

Dalam catatan sejarah perjalanan kaligrafi pada pencarian dan penemuan mazhab-mazhab huruf para khattat Indonesia terdapat huruf-huruf murni tradisional sampai tahun ‘80-an, tetapi Syaiful Adnan tidak berangkat dari aksara murni, ia malah dengan tekun "melukis-lukis" sendiri dan bereksperimen merekayasa goresannya.

 

"Kaligrafi tidak selesai pada huruf.",Hasilnya, pelukis kaligrafi dari Tanah Minang ini sukses memunculkan entitas yang oleh para analis seni Islam disebut khat al-rasm atau “kaligrafi lukis” yang memposisikan Syaiful Adnan di tengah maqom gegedug pelukis Kaligrafi Indonesia angkatan Assabiqunal Awwalun, ujar Didin memberi penjelasan.

 

 Syaiful Adnan, "Ayat Kursi", cat minyak teknik plakat di kertas, 80 x 80 cm, 1984,

 

Karya-karya Kaligrafi Kontemporer (Kontemporer Tradisional, Simbolik, Figural, dan Ekspresionis) made in khattat dan pelukis kaligrafi Indonesia include Syaiful Adnan, tidak lepas dari tudingan "mengambil jalan pintas", dikerjakan "asal-asalan" dan dengan "cara curang" hanya karena tidak berakar dari dan berafiliasi ke tipe-tipe murni seperti Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Riq'ah, Kufi atau Andalusi.

 

Perjalanan kaligrafi sendiri disarati "pemberontakan" menemukan gaya-gaya baru. Dari semula cuma satu jenis Nabatia mutakhir dengan 2 tipe yaitu tipe soft writing dan tipe hard writing) di jaman awal Islam, hanya 70 an tahun sesudah itu di jaman Bani Abbas berkembang menjadi lebih dari 400 gaya dan nama seperti yg kita kenal: Naskhi, Sulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Riq'ah, Raihani, Shini, Kufi, Andalusi, Usyribah, Lu'lu'i, Silwati, Yaquti, dan lainnya.

 Syaiful Adnan, An-Nur 35, 100 x 159 cm, Akrilik, 2022.

 

Kalau alasannya "hanya karena" itu, maka prasangka itu tidak berdasar karena dalam mengolah aksara kontemporer tidak "harus begitu". Belum pula "kebebasan penuh" yang boleh dimainkan, tanpa mengabaikan unsur keterbacaannya yang dijamin benar harfan faharfin-- kalimatan fakalimatin. Syaiful Adnan, jelas, tidak asal gores. Ia juga pasti mengenal khat murni terutama Naskhi, karena pernah belajar ngaji di surau. Dan, kerja kreatif dan inovatifnya, tampak dalam kebebasan ekspresinya, ujar Didin memberi ilustrasi.

 

Menurut Didin, ciri utama khat Syaifuli pada plengkung huruf RA dan WAWU yang menyerupai “serudukan tanduk minang”. Saat melabrak huruf-huruf di bawahnya, statusnya sejajar khat Andalusi. Tapi dua huruf ini dan huruf-huruf lainnya selalu bergerak dinamis jarak spasinya, komposisinya, proporsi bentuk-bentuknya, dan hak-hak milik huruf-hurufnya. Kita seakan serasa seperti diayun oleh iramanya.

 

Karena itu pulalah bila mengamati dan menghayati lukisan kaligrafi Islam karya Syaiful, tak mungkin publik melihat dan mengamatinya sambil lalu tanpa melihat secara totalitas dalam teks dan konteks karya.

 

Hal itu terlihat saat mengamati puluhan lukisan kaligrafi di rumah kaligrafi Syaiful Adnan, jalan Ngasem No. 40 Yogyakarta yang berisikan puluhan karya-karya seni lukis kaligrafi sang maestro Syaiful Adnan, belum lama lama ini.

 

Syaiful Adnan, Iqra, cat minyak, 100 x 100 cm, 1985.

 

Di rumah seni lukis Kaligrafi Islam Syaiful Adnan ini pula publik lebih leluasa untuk mengapresiasi karya-karya sang maestro dengan beragam format dan ukuran. Betapa tidak bangunan rumah kaligrafi Islam itu berukuran sedang itu dahulunya merupakan rumah makan "Andalas" milik Syaiful Adnan yang kini beralih fungsi menjadi rumah kaligrafi yang di tata apik dan fleksibel dan penempatan lay out karya-karya sang maestro.

 

Dalam catatan kita seperti maestro-maestro lain, Khat Pirousi (A.D. Pirous), Khat Akrami (Sayid Akram), dan Khat Amani (Amang Rahman). Sebenarnya belum ada mazhab kaligrafi khas Indonesia". Yang ada barulah produk atau gaya-gaya individual.

 

Kekayaan Syaiful menonjol dalam keragaman tema pilihannya, seperti tauhid, zuhud, kebenaran dan kebatilan, perjuangan hidup, pesan persatuan dan perdamaian, tali persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah, akhlaq, sainstek, ketaqwaan, dzikir, sosial kemasyarakatan, amar-makruf dan nahi-munkar dengan goresan-goresan lengkung menukik melabrak huruf-huruf di bawahnya. Kesan "tanduk minang menyeruduk" memperkukuh eksistensi mazhab Syaifuli made in pelukis kelahiran Minangkabau.

 

Dalam bincang bincang dengan Syaiful Adnan kelahiran Saningbakar Solok, 5 Juli 1957 itu bahwa ; dalam pertumbuhan dan perkembangan seni lukis moderen di tanah air, seni lukis kaligrafi Islam diakui tidak sedahsat seni lukis secara umum. Karena selain pelukisnya harus memahami seni lukis baik secara fisik, non fisik juga harus di back up penguasaan isi Al-Qur’an serta makna-makna yang terkandung di dalamnya kemudian mampu menulis khat seperti gaya Thuluth, Naski, Muhaqqaq, Raihani, Riqai, Taqwi atau Magribi yang masing-masingnya memiliki karakter.

 

Menurut Syaiful melukis bagi dirinya lebih didasari kesadaran kulturalnya dengan menempatkan kaligrafi sebagai pilihan guna merefresentasikan memori pribadi dan memori kolektif yang menyenangi dan mendalami kaligrafi sebagai pilihan kerja lukis melukis dalam bahasa rupa ranah estetis artistik didasari pemahaman kuat terhadap aspek-aspek elementer berupa garis, warna, bidang, ruang, komposisi dan lainnya dengan mengolah ayat-ayat suci Al-Qur’an menjadi tampilan baru karya seni lukis.

 

Mengetengahkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai tema sentral sebagai bentuk refresentasi atas tauhidiah (keyakinan tentang keesaan Allah) dan zikir sebagai konsekwensi dari tauhid. Hal yang terpenting, lukisan-lukisan juga merupakan ekspresi zikir visual, membaca dan mewujudkan terus menerus tentang ayat-ayat Allah, ujar Syaiful Adnan.

 

Padahal Syaiful Adnan semasa bersekolah di SSRI/SMSR (SMKN4) Padang, kemudian beberapa semester di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta termasuk salah satu pelukis cukup kuat dalam penggayaan kecendrungan realis dan naturalis. Peralihan ke kaligrafi Islam sebagai profesi kerja lukis-melukis mulai ia dalami jelang menyelesaikan kuliahnya di kota gudeg itu, persisnya ketika Syaiful mengikuti pameran perdana kaligtafi Islam pada MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Nasional di Semarang, Jawa Tengah tahun 1979. Sejak itu karya-karya Syaiful terus meroket tidak hanya di tanah air bahkan hingga kesejumlah negara berpenduduk muslim lainnya.

 

Menurut Syaiful, anak ketiga dari pasangan Haji Adnan Sutan Sati (ayah) dan Hajah Kamisah (ibu) bahwa  melukis bagi dirinya lebih didasari kesadaran kulturalnya dengan menempatkan kaligrafi sebagai pilihan guna merefresentasikan memori pribadi dan memori kolektif yang menyenangi dan mendalami kaligrafi sebagai pilihan kerja lukis melukis dalam bahasa rupa ranah estetis artistik didasari pemahaman kuat terhadap aspek-aspek elementer berupa garis, warna, bidang, ruang, komposisi dan lainnya dengan mengolah ayat-ayat suci Al-Qur’an menjadi tampilan baru karya seni lukis.

 

Mengetengahkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai tema sentral sebagai bentuk refresentasi atas tauhidiah (keyakinan tentang keesaan Allah) dan zikir sebagai konsekwensi dari tauhid. Hal yang terpenting, lukisan-lukisan juga merupakan ekspresi zikir visual, membaca dan mewujudkan terus menerus tentang ayat-ayat Allah, ujar Syaiful Adnan seraya memperlihatkan sejumlah lukisannya.

 

Ketika ditanya apa yang melatar belakanginya menekuni seni kaligrafi Islam sebagai pilihan kerja lukis-melukis, menurut Syaiful melukis baginya tidak semata menggeluti masalah esetetik dan artistik, melainkan juga memiliki perspektif lain yakni, memberikan sesuatu pesan guna memberikan motivasi kepada penikmat sekaligus meneruskan adat kebiasaan untuk menciptakan dan meneruskan makna kehidupan masyarakat dalam bentuk imajinatif yang memuat persoalan ”estetis”, ”artistik” hingga ke persoalan ”etis”. Dari sini, kata Syaiful lagi terdapat 3 (tiga) faktor yang melatarbelakangi saya melukis kaligrafi Islam meliputi ;

 

(1). Aspek bentuk lukisan kaligrafi Islam yang memiliki konotasi tersurat (psiko plastis) karena kaligrafi Islam memiliki potensi artistik yang tinggi dan memiliki banyak kemungkinan-kemungkinan dengan fleksibilitas variasi dan nuansa yang didalamnya berisi karakter lembut, luwes, tenang bahkan terkadang berkesan lugas, tajam bahkan menyentak, namun karakter tersebut harus tetap berada dalam kesatuan dan keharmonisan yang utuh seperti karakter Islam.

 Syaiful Adnan, Yang Maha Kuasa, Cat Minyak, 75 x 75 cm, 2005

 

(2). Aspek tersirat (ideo plastis) baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kaligrafi dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW seperti tersirat dalam wahyu pertama Surat Al-Alaq (3-5) yang artinya ; ”Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah” dengan mengajar apa yang tidak diketahui manusia melalui perantara kalam seperti tercermin pada Surat Al-Qalam 1, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis” dan

 

(3). Melukis kaligrafi Islam merupakan penyampaian ”dakwah” Islamiyah dengan menyentuh kalbu manusia sesuai fitrahnya supaya menjalani kehidupan menurut petunjuk ilahi. Rasulullah SAW juga bersabda ; ”Sesungguhnya Allah Maha Indah, Allah suka keindahan, Allah maha baik”.  Namun ketiganya dalam karya-karya yang saya wujudkan bukan semata-mata menghadirkan lafal Al-Qur’an yang mudah dibaca atau sekedar tulisan kaligrafi Arab sebatas tulisan belaka, melainkan suatu penyatuan unsur-unsur psiko palstis dan ideo plastis sebagai cita pembahasan bentuk kaligrafi yang dijiwai oleh firman-firman ilahi, ujar Syaiful menguraikan (*)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال